Eksploitasi Anak, Remaja Berusia 15 Tahun di Jakarta Barat di Jadikan Budak Seks


Remaja perempuan berinisial NAT (15) menjadi korban eksploitasi seksual anak di sebuah apartemen di Jakarta Barat. Korban telah dipaksa menjadi budak seks selama 1,5 tahun dan disekap.

Anak tersebut dipaksa untuk melakukan hal dewasa dengan laki-laki hidung belang yang mana ingin melampiaskan nafsunya. Kasus ini lalu terbongkar saat korban berhasil kabur dan melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya.

Laporan korban telah terregistrasi dengan nomor LP/B/2912/VI/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA. Dalam peristiwa ini, korban melaporkan sang  mucikari berinisial EMT.

Terbaru, setelah sehari dilaporkan, kasus tersebut kini telah naik dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan. Kuasa hukum korban, Muhammad Zakir Rasyidin mengatakan peristiwa itu berawal dari ajakan temannya. Korban terjebak dalam bisnis prostitusi itu dari temannya.

pexels-pixabay-278303.jpg
Pixabay Via Pexels

 

"Awalnya hanya diajak temannya ke sebuah apartemen di Jakarta Barat pada Januari 2021. Korban tidak mengetahui ternyata akan dipaksa menjadi PSK. Dia hanya ajak untuk main ke tempat temannya tersebut. Tapi setelah itu korban sudah tidak bisa pulang harus bekerja melayani tamu," kata Zakir, Sabtu (17/9/2022).

Lalu Zakir mengatakan korban akan dijanjikan diberikan uang. Namun, iming-iming itu hanyalah awal mula korban terjebak dalam bisnis prostitusi.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta polisi untuk mengusut tuntas kasus remaja perempuan ini yang dijadikan budak seks di apartemen tersebut. Menurutnya, ada kemungkinan tersangka lain dan merupakan jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

"Saya apresiasi langkah cepat dari Polri. Tapi catatan banyak. Benarkan ini dilakukan oleh satu orang? Kedua, siapa yang menikmati? Apakah hanya Mami (EMT) ini? Atau siapa? harus jelas," ucap Komisioner KPAI Ai Maryati Solihah, saat dihubungi, Jumat (16/9/2022).

Tanggapan Ai Maryati, anak tersebut dipaksa bekerja dan menghasilkan uang yang banyak. Kemudian, anak tersebut disekap selama 1,5 tahun untuk menjadi budak seks.

"Anak ini menghasilkan, yang menerima uang Mami. Ada lagi nggak yang menerima manfaat itu. Jangan-jangan Si Mami bayar ke ABCD, orang yang mencari pelanggan, kan dibayar juga. Rantai TPPO yang harus dibongkar," ucapnya.

Di dalam TPPO itu, biasanya ada pelaku-pelaku lain yang menjalani perannya. Menurut Ai Maryanti orang-orang itulah yang harusnya diungkap.

"(Kemungkinan) ada sistem rekrutmen, mencari korban lain, atau memerintahkan orang lain untuk mencari yang dieksploitasi, juga harus didalami. Orang yang ajak, itu sudah termasuk (pelaku) kalau TPPO. Itu jadi rangkaian kejahatan yang kena TPPO," tuturnya.

Ai Maryati pun menyebutkan bahwa ada informasi terkait EMT tidak mempunyai beberapa tempat lain yang digunakan untuk bisnis prostitusi. Dengan pola pola penyekapan, tindakan ini sudah masuk dalam perdagangan manusia.

"Indikasi Mami kan ada beberapa unit yang digunakan untuk aksi pelacuran. Harus dipastikan. Eksploitasi ini sudah di level tertinggi perdagangan manusia. Karena ingin mendapatkan keuntungan melimpah, " katanya.

Polisi menyebut tidak ada bagi hasil dari bisnis prostitusi yang dijalankan pelaku. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengatakan korban pertama kali bertemu dengan terlapor pada 2021. Pada saat itu terlapor menawari korban untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK).

"Terlapor menawarkan korban sebagai wanita booking out (BO) dengan menjanjikan akan mendapatkan uang yang banyak," kata Zulpan dalam Keterangannya, Jumat (16/9/2022).

Dalam praktiknya tidak ada keuntungan yang diberikan kepada korban dari pelaku. "Namun selama korban bekerja melayani tamu ternyata seluruh uang hasil melayani tamu setiap harinya diminta oleh terlapor dengan alasan untuk membayar sewa kamar dan makanan sehari-hari," jelas Zulpan.

 

 

 

 


0 Komentar :

    Belum ada komentar.